Kisah nyata wanita pelaku nusyuzd
Kisah nyata ini aku dedikasikan untuk para wanita muslimah terutama yang gemar bermedsos ria.
Semoga kalian tersadar dari keasyikan dan kenikmatan semu yang menipu dan menjebakmu....
Kisah tragis ini ku beri judul "BERAWAL DARI ISENG DI MEDSOS"
Oleh : Sukma Lara (nama samaran)
Aku wanita 40 tahun, masyarakat memandang status sosialku mungkin bisa dianggap mulia karena aku adalah seorang guru di sebuah taman kanak-kanak di sekitar Jakarta selain itu aku juga aktif di lingkungan rumahku sebagai guru ngaji di sebuah taman pendidikan Qur'an.
Kehidupan rumah tanggakupun awalnya baik-baik saja. Terkadang memang ada saja riak-riak pertengkaran karena salah paham tapi itu kuanggap hal yang wajar. Suamiku adalah orang yang baik meski tidak sempurna tapi dia termasuk laki-laki yang soleh bahkan sejak mengenal sunnah sikap keagamaannya semakin kuat.
Kedua anak laki-lakiku pun mereka sehat dan aktif mereka adalah hartaku yang paling berharga.
Kehidupan ekonomiku pun sebenarnya cukup lumayan, meski kadang harus gali lubang tutup lubang tapi kami tidak pernah kelaparan. Kami sudah punya rumah sendiri dan kendararan pribadi walau hanya tiga buah motor sebagai modal transportasi. Penghasilan suamiku memang jauh dari mencukupi tapi anehnya selalu ada jalan untuk mengatasi kesulitan keuangan yang kami hadapi. Yah, memang sipat manusia itu selalu merasa tak pernah cukup berapapun rizki yang Allah berikan sehingga selalu merasa dalam kekurangan sedikit sekali bersyukur.
Kisah ini berawal saat aku sudah mulai mengenal medsos. Tapi suamiku sebenarnya lebih dulu karena ia cukup pintar dalam hal IT. Semakin hari aku semakin hanyut dalam binarnya dunia medsos. Tanpa seijin suami Aku mulai berani bertemu kembali dengan teman-teman sekolah seangkatan dulu laki-laki dan perempuan untuk sekedar bercanda gurau bahkan bernostalgia dan sering kali kami kumpul-kumpul bercengkrama, bercanda ria, tertawa sepuasnya dengan dalih reunian, padahal di sana laki-laki dan perempuan berbaur jadi satu, sesuatu yang terlarang menurut syariat Islam. Bukan saja berselancar di grup-grup wa aku terus hanyut dalam dunia maya FB, Tweett, IG, BBM dsb. terus ku jelajahi. Chatt dengan pertemanan semakin membuatku larut hingga bukan teman wanita saja yang ku layani dengan laki-laki pun seringkali aku berchatt mesra.
Sampai suatu hari aku menjelajah profil fb suamiku dan disana aku temukan foto wanita cantik dengan hastag yang membuatku kecawa di foto itu ia tuliskan #ZauzahIdaman. Hatiku hancur rasa cemburu menggelora hingga kemudian akupun marah padanya meski ia sudah beruasaha menjelaskan bahwa sebenarnya ia hanya iseng dan foto itu untuk melengkapi status yang ia buat tapi tetap saja aku tidak terima. Sejak itu hubungan kami jadi tidak harmonis seringkali aku menolak ajakannya berhubungan intim dengan berbagai alasan capelah, mengantuk, dan alasan yang dibuat-buat lainnya. Ya, Allah sebenarnya aku tahu itu perbuatan nusuyz dan dosa besar..... tapi kekecewaan dan kebodohan membuatku berani melakukan kezhaliman ini.
Sikapku dan rumah tanggaku semakin hari semakin goncang aku tidak lagi merasa betah di rumah, bete rasanya berlama-lama di rumah. Untuk menghilangkan rasa bete itu aku semakin sering kumpul-kumpul dengan teman-temanku atau berchatting mesra di wa, BBM, bahkan massanger dengan teman laki-laki meski harus kucing-kucingn dari suami. Mungkin sebenarnya suamikupun sudah tahu perbuatanku itu. Sementara sikapku kepada suami semakin dingin dan seringkali membangkang belum lagi ucapan- ucapan kasar yang terlontar dari mulutku bahkan terkesan merendahkan suami, namun saat itu rasanya aku merasa di posisi benar. Seringkali ia menasehati dan memperingatkanku agar menghentikan perbuatan lacurku itu tapi nasehatnya bagiku bagaikan bensin yang siap menyulut api. Ya Rabb.... Ada apa dengan diriku...ðŸ˜ðŸ˜. Hingga suatu ketika kami bertengkar cukup hebat dan aku kabur dari suamiku ... Rabbanaa, dosa besar apalagi yang kuperbuat ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. Hampir-hampir saja suamiku menceraikan aku. Tapi untunglah itu tidak terjadi demi anak-anak kami akhirnya sepakat untuk memperbaiki keadaan dengan syarat aku tidak mengulangi segala perbuatan bodohku itu.
Tetap saja suasana rumah tanggaku kini tidak seperti dulu ketika awal menikah. Rasa bete, jenuh, saat ini masih saja seringkali membuatku berprilaku bodoh. Ditambah lagi sikap pendiam dan tidak mesra yang ditunjukan suamiku membuat penyakit bermedsosku kambuh lagi. Aku kembali terjerumus dalam dunia chatt mesra dengan laki-laki kenalanku bahkan kali ini bahasa yang kugunakan semakin cabul dan lacur. Memanggil sebutan dengan mamah, bunda, aby bahkan sayang kepada laki-laki kawan chattku disertai emoji atau gambar mesra dan mesum sudah semakin terbiasa.... Ya, Rabb ada apa dengan diriku aku tahu sebenarnya
Ini dosa tapi tetap saja kulakukan ðŸ˜ðŸ˜. singkat cerita suamikupun akhirnya mengetahui, kali ini ia marah besar dan tidak lagi memaapkanku. Perceraianpun akhirnya terjadi. Aku terusir dari rumahku kembali ke rumah orang tuaku. Pengadilan agama memutuskan aku bersalah telah nusyuz pada suami sehingga tidak mendapatkan hak atas harta gono-gini. Yang paling membuatku hancur akupun tidak mendapatkan hak asuh atas anak-anakku hartaku yang paling berharga 😠mereka harus tinggal dengan ayahnya. Oh, Rabb... dungunya aku saat itu.
Cerita dungu dan pilu sebenarnya baru dimulai. Setelah perceraian itu aku mulai menggapai harapan. Bayangan hidup indah bersama laki-laki teman selingkuh di medsos mulai ku gapai, aku mulai kembali sering chattingan dan bermesraan di medsos hingga hubungan kamipun semakin intim puncaknya ia pun melamarku akhirnya kamipun menikah. Sebulan, dua bulan aku merasakan seolah-olah bersama suamiku ini adalah syurgaku. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, sifat buruknya mulai tampak ternyata dia seorang yang tempramen, kasar, dan ringan tangan setiap kali kami bertengkar selalu saja tangannya ringan menghajarku sampai wajah/tubuhku lebam perlakuan ini kualami selama berbulan-bulan. Syurgaku kini berubah bak neraka pertengkaran dan pukulan tak lekang mendarat ditubuhku perlakuan yang tak pernah ku terima dari suami pertamaku ayahnya anak-anaku. Aku tak tahan lagi hingga kemudian aku melakukan gugatan cerai, perceraianpun terjadi. Ya, Allah ..... Mungkinkah ini azdab dunia atas dosa nusyuzd yang kulakukan?
Bebas dari cengkraman harimau aku malah masuk ke mulut buaya. Bebas dari penganiayaan suami kedua aku kemudian kembali menjalin asmara dengan teman medsosku yang lain. Chattingan penuh mesra dan sudah berulang kali kami lakukan dan aku berkesimpulan dialah cowok idamanku, ganteng, berduit, romantis, penuh kemesraan, sikapnya sangat lembut padaku akhirnya kamipun menikah. Di luar dugaan, malam pertamaku kami habiskan dengan hubungan intim bahkan siangnyapun terus berlanjut, aku tak menyangka ternyata suamiku yang ini adalah seorang hiper sex. Remuk redam rasanya tubuhku melayanai nafsunya yang menggebu dan terus minta berulang kali bahkan semakin ke sini prilaku sexnya semakin liar dan sadis. Dia mulai berprilaku kasar dan sadis memukuliku sebelum berhubungan intim seolah ada kepuasan saat dia melihat aku merintih kesakitan. Selanjutnya selalu seperti itu jika dia melampiaskan hasratnya padaku. Oh... Tuhan aku tak kuat lagi menerima perlakuan seperti ini, ternyata suamiku yang ini seorang maniak sex. Saat jiwa dan ragaku terasa remuk redam akibar perlakuan sexnya yang menyimpang terkadang aku beranikan diri menolaknya dengan halus saat dia ingin berhubungan intim tapi yang terjadi, dia marah dan pergi dari rumah hingga berhari-hari baru pulang tampa mengabariku. Ya Ghafuur, ....belakangan aku dapat kabar dari temannya bahwa ternyata dia sering berganti-ganti wanita, dia menyalurkan hasrat sexsualnya dengan para wanita bayaran dan ini memang kebiasaannya sejak sebelum menikah denganku.... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Tuhan ampunilah aku, aku tak sanggup lagi melanjutkan hubungan ini dengannya. Perceraianpun akhirnya tejadi.
Lengkap sudah penderitaan, kepedihan, dan prahara hidup yang kualami. Setelah bercerai dari suami ketiga aku jatuh sakit, dokter mendiagnosis bahwa aku mengidap HIV (AIDS). ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ’€ðŸ’€ðŸ’€... Ya.. Kariim, ternyata suami ketigaku itu juga pengidap HIV dan menularkannya padaku. Hancur lebur sudah jiwa ragaku mendapat kenyataan ini, hidupku sudah tak ada lagi arti, dan penderitaan panjang sudah pasti menanti. Teringat kembali semua dosa yang telah kulakukan pada suami pertamaku ingin rasanya aku bertemu dan memohon maap atas perilakuan burukku padanya namun tak ada keberanian untuk menjumpainya. Kabar terakhir yang kudengar ia telah diangkat menjadi ASN (PNS) dan menikah lagi dengan seorang akhwat bercadar, mobil barupun kini telah dimilikinya, anak-anakku.... alhamdulilah dengan didikan ibu barunya itu mereka ternyata menjadi anak-anak yang sholeh, yang terbesar telah bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal, sementara yang kecil sekolah di SMPIT. Syukurlah setidaknya aku bsa menghela napas melihat anak-anakku kini dalam keadaan baik bersama ibu barunya. Tinggalah kini rasa penyesalanku yang tiada berujung dan hidupku kini hanya tinggal menghitung hari. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan, hanyalah ikhlas menjalani azdab dunia yang harus kuterima sambil menghitung hari demi hari bila ajal akan menjemputku. Hanya tinggal satu yang kuharapkan, "ampunan Tuhan". Selesai


Comments