MILIK SIAPAKAH KEMERDEKAAN SESUNGGUHNYA?

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, saat ini ramai di hampir semua pelosok negeri bersuka ria mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingatinya. Intinya dengan melaksanakan upacara pengibaran bendera kemudian disusul dengan berbagai kegiatan lomba dan hiburan.

Semua warga seperti bersukacita, sorak sorai dan riuh tepuk tangan mewarnai setiap helaran kegiatan. Sementara jauh di sudut-sudut negeri sebenarnya masih banyak anak negeri ini yang belum bisa merasakan suka cita itu. derita dan nestapa setiap hari terasa sangat kental mereka rasakan. Keadilan sosial dan ekonomi belum mereka rasakan. kesejahteraan hidup teramat jauh dari kenyataan bahkan perjuangan mereka untuk sekedar mendapat penghasilan layakpun sudah bertahun-tahun tak kunjung kesampaian hanya harapan, dan selalu harapan palsu dari para pemangku kepentingan dan jabatan yang selama ini mereka dapatkan. misalnya para Guru Honorer yang nasibnya sampai saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah.

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, waktu yang sebenarnya cukup mapan untuk mensejahterakan bangsa. Tapi mengapa semua asa bangsa ini tak sesuai fakta, adakah yang salah dengan para pengelola? Narkoba, korupsi, terus merajalela. kriminalitas, tawuran antar warga gunjang-ganjing perpolitikan, dan sejuta problematika sosial senantiasa mewarnai setiap derap langkah kehidupan di negeri tercinta. Apa yang salah dengan negeriku tercinta?

Wahai para petinggi bangsa, masihkah kami bisa menaruh asa untuk bisa sekedar mencicipi  "KUE KEMERDEKAAN" yang sudah sekian lama kami impikan namun tak jua dapat kami rasakan.
Wahai para pemangku jabatan, masihkah aturan dan undang-undang yang kau lahirkan berpihak kepada kami rakyat jelata yang penat berjuang tuk sekedar meraih dua kata "HIDUP SEJAHTERA"
TOLOONG....Singkirkan slogan-slogan palsu yang mengatas namakan kepentingan bangsa. TOLOONG....Singkirkan kepentingan pribadi dan kelompokmu yang mengatas namakan massa.
TOLOONG....Janganlah kau khianati kepercayaan kami  yang telah memilihmu di pemilu dengan berlapang dada.


Nun jauh di lubuk hati masih ada secercah sinar kepercayaan
Nun jauh dalam hati nurani masih ada asa semoga seluruh negeri akan sejahtera di bawah kepemimpin mereka.

Redaksi di atas merupakan gambaran ungkapan perasaan masyarakat kita saat ini pada umumnya. Mereka sesungghunya menjerit bahkan merasa putus asa hidup di masa pembangunan dan kepemimpinan saat ini. di satu pihak pembangunan infrastruktur terus digenjot dengan menghabkiskan dana yang sangat fantastis bahkan untuk mencukupinya pemerintah tak segan untuk melakukan pinjaman dana ke luar negeri semisal IMF, menurut sumber terpercaya utang Indonesia saat ini bahkan kalau dibagi ke seluruh penduduk Indonesia hata bayi yang belum lahir pun dapat terkena tanggungan utang ini. Di sisi lain  percepatan pemabangunan infrastruktur tersebut ternyata tidak dibarengi pertumbuhunan ekonomi yang meningkat bahkan cenderung semakin terpuruk. Harga kebutuhan pokok naik sementara daya beli masyarakat rendah, subsidi BBM, listrik dihapus alhasil pengeluaran biaya kebutuhan hidup  masyarakat meningkat sementara kran sumber-sumber penghasilan banyak yang tertutup.

Terpuruknya ekonomi Indonesia itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya sekitar 5 persen sungguh sangat mengkhawatirkan, padahal seharusnya 6-7 persen. Tak heran jika para pengamat ekonomi memperkirakan,  gejolak ekonomi ditahun ini tidak kalah dahsyat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat ada beberapa peristiwa luar biasa di tahun 2016 yang berdampak pada kondisi ekonomi di dunia.
Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengkritik kinerja ekonomi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang pencapaiannya sejauh ini jauh dari target-target di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Perlambatan ekonomi selama tiga tahun terakhir dinilai sebagai buktinya.
"Laporan pemerintah Indonesia memang hebat, nomor tiga di dunia, tetapi dibandingkan dengan RPJMN justru semakin kacau," kata Faisal Basri di Jakarta, Senin (12/6/2017).
Hal berbeda disampaikan pengamat ekonomi Zaini Noor, dia sependapat dengan pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Bambang Brodjonegoro yang mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia saat ini mirip dengan kondisi ekonomi Indonesia pada saat dijajah oleh Belanda.
"Ekonomi Indonesia saat ini tidak jauh beda dengan kondisi ekonomi saat kita di jajah Belanda. Mereka menjajah dengan menjarah rempah-rempah dan komoditas lainnya yang dikirim ke negaranya," ujar Bambang saat menghadiri acara paguyuban Mas TRIP di Gedung Perbanas, Jakarta, Sabtu (12/11/2016).
Menurutnya, Indonesia sekarang kondisinya modern, tetapi jika melihat sejarah, mirip dengan keadaan saat dijajah Belanda. (sumber: Harian Terbit, 13 Juni 2017).lihat di



Comments

Popular posts from this blog

Kisah nyata wanita pelaku nusyuzd

DEGRADASI AKHLAK ERA MILENIUM