PERAYAAN MAULID NABI SAW DALAM PANDANGAN SUNNAH (Kembali kepada Sunnah)

Perayaan Maulid Nabi dalam Pandangan Sunnah




Ramai orang-orang khususnya di Indonesia berkumpul di masjid-masjid atau tempat-tempat tertentu pada malam 12 Rabi'ul Awal untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw (Maulidan). Bagaimana syariat Islam yang murni (bersumber pada Al-Quran dan Hadits yang shohih) memandang ini?

Jika seseorang mengatakan, "Ya, ini memang salah tapi jika di sana terdapat halaqah zikir yang bid'ah disertai nyanyian, gerakan dan tarian, itu salah. Tetapi kami berkumpul untuk membaca sirah Rasulullah saw yang mulia dan mengingat berbagai peristiwa yang abadi, apakah ini salah juga? Bukankah ini bid'ah yang baik (bid'ah hasanah)?"

Penulis menjawab, "Ya, itu salah. Bahkan seandainya masalahnya seperti yang anda katakan itu, hal tersebut tetap saja tidak benar, bahkan bida'ah. Karena, berkumpul dalam momentum seperti ini tidak ada riwayat yang shahih bahwa para sahabat Nabi yang tentu saja paling memahami, paling menginginkan kebajikan, paling mencintai Nabi saw, dan orang-rang paling mengikuti petunjuk Rasulullah saw, pernah melakukan hal tersebut. Seandainya ini kebaikan (hasanah), sudah pasti mereka sudah lebih dulu melakukannya." 

Syaikh Shalih Al-Fauzan mengtakan, "Perayaan Maulid Nabi saw adalah dilarang dan tertolak dari beberapa alasan (sudut pandang):

Pertama, hal itu bukanlah Sunnah Rasulullah saw dan bukan pula sunnah para khalifahnya, artinya itu perbuatan bid'ah, berdasarkan sabdanya: "Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa arasyiddin yang di beri petunjuk lagi lurus. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah segala perkara yang diada-adakan. Karena setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat." {Hadits shahih riwayat Abu Dawud (4607) dan selainnya dengan sanad shahih}

Perayaan Maulid Nabi adalah bid'ah yang diciptakan oleh Fathimiyyun (Dinasti Fathimiyyah, di Mesir) yang berhaluan syi'ah setelah berlalunya masa keemasan Islam, untuk merusak agama kaum muslimin.

Barang siapa melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah (ibadah) yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw dan tidak pernah diperintahkannya, serta tidak pernah dilakukan para khalifah sepeninggalnya (aqidah Ahlussunah waljamaah), maka perbuatannya itu sejatinya merupakan tuduhan terhadap Rasulullah dan para sahabatnya bahwa beliau belum menjelaskan (menyembunyikan) kepada manusia tentang agama mereka, dan mendustakan firman Allah:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, " (Al- Maidah : 3)

Karena, ia menambahkan sesuatu yang diduganya sebagai bagian dari agama, padahal Rasulullah saw tidak pernah mensyariatkannya.

Kedua,  merayakan peringatan Maulid Nabi menyerupai kaum Nasrani, karena mereka merayakan kelahiran Isa as (Natal). Padahal meniru-niru mereka sangat diharamkan dalam Islam. Nabi saw bersabda: "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka." {Hadits shahih Riwayat Abu Dawud (4031) dan Ahmad (5093), dengan sanad yang hasan}

Seharusnya kita menyelisihi mereka bukannya meniru-niru mereka terutama dalam hal simbol-simbol agama mereka. Rasulullah saw bersabda: "Selisihilah kaum musyrikin,..." {Hadits Shahih Riwayat Al-Bukhari (5892) dan Muslim (259)}.

Ketiga, merayakan peringatan Maulid Nabi saw selain bid'ah dan menyerupai kaum musyrikin (yang mana kedua perkara ini diharamkan) juga menjadi sarana menuju sikap yang berlebih-lebihan (ghuluw) dalam mengagungkan Rasulullah saw sehingga akan menjerumuskan para pelakunya ke dalam tindakan berdoa dan beristighasah kepada beliau saw, selain kepada Alah. Sebab faktanya kebanyakan orang yang membudayakan bid'ah Maulid mereka berdoa kepada Nabi saw dan meminta pertolongan kepada beliau, selain kepada Allah juga. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya pembacaan Kitab Al-Barjanji  ataupun pembacaan kasidah-kasidah seperti Al Burdah yang di dalamnya terkandung kalimat-kalimat kesyirikan, padahal Nabi melarang ummatnya berlebih-lebihan dalam memujinya. Beliau bersabda: "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum nasrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa as) putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka sebutlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya."  {Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (3445)}.

Nabi melarang kita karena khawatir bila apa yang telah menimpa mereka, akan menimpa ummatnya pula, dengan sabdanya: "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama karena yang telah membinasakan ummat-ummat sebelum kalian ialah berlebih-lebihan dalam agama." 

Keempat, menghidupkan bida'ah Maulid akan membuka pintu (jalan) bagi bida'ah-bid'ah lainnya yang mungkin lebih berbahaya dan terlarang dan sudah tentu melalaikan sunnah. Kita bisa melihat bahwa ahli bid'ah sangat semangat menghidupkan bid'ahnya dan bermalas-malasan serta lalai melaksanakan sunnah bahkan memusuhi ahlussunnah (para pengikut sunnah), bahkan agama mereka berubah menjadi ritual berbagai peringatan dan hari-hari kelahiran yang bid'ah.

Mereka terpecah menjadi beberapa golongan, dan tiap-tiap golongan menghidupkan peringatan hari kelahiran bahkan hari kematian (khaul) para imam, guru-guru, atau tokohnya. seperti Maulid Al-Badawi, Ibnu Arabi, Ad-Disuqi, dan selainnya. Hasilnya ialah sikap berlebih-lebihan terhadap orang yang sudah mati dan berdoa kepada mereka, selain kepada Allah, seta meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati itu bisa memberi manfaat dan mudarat dengan alasan mereka adalah orang-orang shalih yang diberikan kelebihan oleh Allah. Mereka serupa dengan kaum jahiliyah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: "Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, "Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah." (Yunus :18)

Wallahu a'lam.

Sumber: Ensiklopedia Kesalahan dalam Ibadah, oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali


Comments

Popular posts from this blog

Kisah nyata wanita pelaku nusyuzd

DEGRADASI AKHLAK ERA MILENIUM